



minidivi dissucion
every wednesday 4 PM @ 7th Floor Faculty of Communication and Dakwah UIN JAKARTA
Teman-teman datang pada diskusi miniDV hari Rabu, 24 Desember 2008 jam 4 sore di lt. 7 Fakultas Komunikasi dan Dakwah UIN Jakarta
pada minggu ini kami mengangkat Tema 10 Tahun Film Indonesia Pasca Reformasi.
Disscusant by : Ray Sangga Kusuma
Bagaimana perfilman Indonesia dewasa ini pasca reformasi 98 dan apa saja perkembangannya.
Ibarat bangun dari tidur lelapnya film Indonesia bangkit lagi di era reformasi apa mungkin seiring konstalasi negara ini menuju demokratisasi dan adalah film Kuldesak, eliana-eliana memulainya yang diikuti oleh film Pasir Berbisik dan tentunya fenomena film Ada Apa dengan Cinta. sontak gairah perfilman Indonesia meningkat terbukti semakin banyaknya diproduksi film. Namun kebangkitan film Nasional juga dibarengi berbagai macam peristiwa yang menyertainya dimulai dengan booming film-film bergenre remaja dan horor sampai pada film-film yang mengandalkan keuntungan semata tanpa mempertimbangkan kualitas diiringi insiden pengembalian Piala Citra yang seakan membuka setumpuk permasalahan perfilman kita mulai dari regulasi sensor yang tidak kontekstual dan anti reformasi sampai pada hadirnya gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dimotori para sineas-sineas muda yang gelisah terhadap masa depan perfilman nasional. kalau kita lihat rupanya perfilman nasional tidak hanya cukup dilihat dari kacamata industri justru produksi film-film non komersil semakin mendapat tempat di masyarakat seperti penyelenggaraan Festival Film Pendek Konfiden, JIFFEST, Purbalingga Film Festival, Mafvie Kineklub UMM, Festival Film Dokumenter (FFD) Jogjakarta, Jogja Netpac Asia Pacific dll.
Tidak hanya pada skalasi eksibisi hadirnay komunitas-komunitas film diberbagai tempat menanddakan era baru bagi perfilman nasioanl. film kini lebih demokratis? benarkah....
Ibarat bangun dari tidur lelapnya film Indonesia bangkit lagi di era reformasi apa mungkin seiring konstalasi negara ini menuju demokratisasi dan adalah film Kuldesak, eliana-eliana memulainya yang diikuti oleh film Pasir Berbisik dan tentunya fenomena film Ada Apa dengan Cinta. sontak gairah perfilman Indonesia meningkat terbukti semakin banyaknya diproduksi film. Namun kebangkitan film Nasional juga dibarengi berbagai macam peristiwa yang menyertainya dimulai dengan booming film-film bergenre remaja dan horor sampai pada film-film yang mengandalkan keuntungan semata tanpa mempertimbangkan kualitas diiringi insiden pengembalian Piala Citra yang seakan membuka setumpuk permasalahan perfilman kita mulai dari regulasi sensor yang tidak kontekstual dan anti reformasi sampai pada hadirnya gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dimotori para sineas-sineas muda yang gelisah terhadap masa depan perfilman nasional. kalau kita lihat rupanya perfilman nasional tidak hanya cukup dilihat dari kacamata industri justru produksi film-film non komersil semakin mendapat tempat di masyarakat seperti penyelenggaraan Festival Film Pendek Konfiden, JIFFEST, Purbalingga Film Festival, Mafvie Kineklub UMM, Festival Film Dokumenter (FFD) Jogjakarta, Jogja Netpac Asia Pacific dll.
Tidak hanya pada skalasi eksibisi hadirnay komunitas-komunitas film diberbagai tempat menanddakan era baru bagi perfilman nasioanl. film kini lebih demokratis? benarkah....
Untuk lebih tahu tentang tema diskusi ini datang dan saksikanlah diskusi miniDV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar