André Bazin dan Akademisasi Film
Oleh : Renal Rinoza Kasturi
Alih-alih mengungkap realitas, film mampu untuk membentuk suasana hati dan membekas dalam benak penonton. Inilah yang menjadi credit point sebuah film, mampu dan sukses menghadirkan realitas, karena sebelumnya tak ada yang mampu mewujudkan pencapaian realita bahkan seni lukis sekalipun dan film telah membuka tabir itu. Inilah yang mempesona André Bazin dalam mengulas film dan sepertinya ia tak henti-hentinya mengangumi film. Wajarkah?
Ia secara intensif tertarik pada film dimulai pada tahun 1939 tatkala ia menjadi tentara sebagai wajib militer dalam Perang Dunia II. Dan di bentangan antara tahun 1944- 1953, Bazin menulis beberapa seri esainya, sebelum ia meninggal dunia di usia sekitar 40 tahun. Umumnya pada bahasa aslinya (baca: Perancis) Qu'est- ce que le cinéma? terdiri dari empat esai dan pada edisi bahasa Inggris yang diseleksi dan diterjemahkan oleh Hugh Gray menjadi dua volume What Is Cinema? . Perlu untuk diketahui bahwasanya pendekatan teori film André Bazin dimulai dengan melihat kebudayaan visual (image cultures) secara antropologis, secara khusus Bazin berhutang budi pada Andre Malraux, Roger Leenhardt, Walter Benjamin, Debray, McLuhan, Jean Paul Sartre, Gilles Deleuze, Maurice Merleau Ponty (sumbangan fenomenologi bagi pendekatan teori film) dan para pemikir lainnya.
Kalau kita simak esai Bazin yang terhimpun dalam What Is Cinema? Kita seakan melihat film sangat filosofis dan merupakan kekhasan fenomen peradaban umat manusia seperti Bazin tulis sejatinya film adalah representasi realitas dimana secara ontologis Bazin memasifkan film sebagai kesahihan realitas yang secara radikal efeknya mempengaruhi gambaran visual di antara bentangan ruang dan waktu.
Berkat tulisannya, kajian film mendapatkan tempat istimewa dalam khazanah intelektualitas, terbukti apresiasi ini bukanlah yang bersifat simbolik belaka, adalah Universitas Sorbonne yang pertama kali membuka sebuah disiplin ilmu baru dalam lingkungan akademik dengan membentuk sebuah departemen khusus, Institute de Filmologie Université de Sorbonne. Akademisasi film telah di mulai di Paris dengan dibukanya Institute de Filmologie Universitas Sorbonne di bawah asuhan seorang estetikus Etienne Souriau yang menghimpun beberapa sarjana dari berbagai disiplin ilmu, lembaga ini juga menerbitkan jurnal Reveu Internationale de Filmologie. Kemudian Jean Mitry selaku pimpinan departemen filmologi, ia menerapkan sebuah metodologi dan epistemilogi dalam kajian film yang tentu saja pengaruh André Bazin tak terlepas dari inisiasi ini. Profesor Mitry secara teoritis dengan berbagai perspektif keilmuan mensistesiskan pemikiran Bazin yang bermuara pada pembiakan literatur film khususnya mengenai arus baru teori film. Eksistensi lembaga yang dipimpin oleh Jean Metry mendapat tempat dalam masyarakat ilmiah, dalam waktu yang relatif singkat lembaga yang dipimpinnya naik pamor dan sangat diperhitungkan. Banyak para teoritisi-teoritisi yang telah dihasilkan oleh lembaga ini salah satunya ialah Christian Metz, demikian halnya dengan penemuan-penemuan teori dan metodologi dalam kajian film yang semakin mengukuhkan eksistensi bahwasanya filmologi adalah arah baru bagi perbendaharaan ilmu pengetahuan dengan berbagai macam tipologi ilmu pengetahuan dan tentunya pendekatan yang digunakan filmologi sangat beraneka ragam, lintas disiplin dan lintas sektoral, artinya pendekatan keilmuan (epistemilogi) kajian film sangat berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain seperti filsafat, teologi, kesusasteraan, psikologi, fisika, geologi, bahkan kelistrikan dll seperti yang ditulis oleh Hugh Gray dalam kata pengantarnya untuk What Is Cinema?
Tak dapat dibantah bagaimana André Bazin telah memberikan sebuah formulasi bagi perkembangan sinema khususnya yang berada pada lokus keilmuan dengan semakin intensifnya pengkajian-pengkajian film. Pengaruh Bazin begitu terasa dalam dinamika atmosfer kajian film, berkat esainya seakan dunia telah membuka matanya bagi perkembangan kajian film. Totalitas inilah yang ditunjukkan oleh Bazin seperti janjinya tatkala ia menjadi tentara dalam wajib militer pada Perang Dunia II bahwa ia akan mendarmabaktikan hidupnya untuk film. Ya, Bazin telah membuka horizon berpikir tentang sinema dan tentunya pamor film sebagai sebuah karya seni semakin terangkat derajatnya, lagi-lagi berkat Bazin film berhasil memantapkan kedudukannya sebagai sebuah entitas seni yang sama derajat seperti seni lukis yang begitu sudah sangat mapan dan Bazin tak lupa menulis dialektika yang terjadi terutama dalam esainya yang berjudul ”The Ontology of the Photographic Image”, dimana dalam esai ini Bazin mengutarakan kekagumannya pada citra optis fotografi embrio dari sinematografi sebagai the metaphysic of presencenya realitas yang objektif seperti kutipan Bazin ini :
....”Originality in photography as distinct from originality in painting lies in the essentially objective character of photography....” .
Renal Rinoza Kasturi
Antropolog Media di KOMKA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar