Oktober 23, 2008

Esai-esai Pembebasan

André Bazin dan Akademisasi Film

Oleh : Renal Rinoza Kasturi

Catatan Awal ; Membincang film antara realitas dan ilusi sebagai unifikasi

Tulisan ini mencoba untuk mengulas secara singkat perihal diskursus film dalam ranah akademis yang telah di mulai di tahun 1950-an. Batu peletakannya di tancap di Universitas Sorbonne dengan didirikannya Institute de Filmologie. Berdirinya institusi akademik yang memfokuskan diri pada studi film sebagai episentrum penelitian, tak terlepas dari pengaruh André Bazin baik langsung maupun tidak langsung dalam memberikan sebuah terang filosofi bagi keilmuan film sebagai sebuah entitas pengkajian.

Sejak pertama kali diputar secara perdana oleh Lumiere Bersaudara di Grand Café Paris pada tahun 1895, sontak para penonton berhamburan keluar dari café tersebut lantaran secara tiba-tiba ada sebuah adegan yang sangat mengejutkan yakni sebuah kereta api seolah-olah hendak menabrak mereka. Inilah ilusi baru yang diciptakan oleh film. Fenomena tersebut sangat menggemparkan dan luar biasanya ketika itu, bagaimana mungkin sebuah kereta yang berada di layar dapat menabrak dan itulah ilusi yang diciptakan dalam alam pikiran kita. Tak berhenti disitu saja, rupanya film dapat dijadikan instrumen untuk melakukan sebuah eksperimentasi seperti keingintahuan apakah seokor kuda yang berlari dapat terbang dan melayang, ternyata jawabannya “dapat”. Penemuan ini telah membuktikan keampuhan film dalam membentuk ilusi dan sebelumnya tak ada satupun media yang mampu merekam pergerakan gambar yang sangat detail seperti film dapat lakukan. Pemutaran perdana tersebut tentunya berimplikasi pada kebudayaan umat manusia, kehadiran film sangat membius dan mempesona suatu kolaborasi hebat antara realitas dan teknifikasi sinematografi yang menghadirkan representasi-reprentasi baru, image-image baru dan pastinya sebuah kebiasaan baru yakni menonton film di sebuah bioskop. Berkat kekuatan magisnya film dapat membuat sebuah realitas yang sempurna bagi penontonnya yang Bazin sebut sebagai total sinema dalam essai yang ia tulis berjudul The Myth of Total Cinema.


Alih-alih mengungkap realitas, film mampu untuk membentuk suasana hati dan membekas dalam benak penonton. Inilah yang menjadi credit point sebuah film, mampu dan sukses menghadirkan realitas, karena sebelumnya tak ada yang mampu mewujudkan pencapaian realita bahkan seni lukis sekalipun dan film telah membuka tabir itu. Inilah yang mempesona André Bazin dalam mengulas film dan sepertinya ia tak henti-hentinya mengangumi film. Wajarkah?


****

Kemasyhuran André Bazin dan intensifikasi pengkajian film

Pembahasan mengenai André Bazin tak akan ada habisnya bak sumur tanpa dasar, karena pandangan Bazin dalam menulis sangatlah multi perspektif dan ia menggunakan aneka pendekatan dalam menulis film. Bazin sendiri sering membandingkan film dengan media seni lainnya dan asumsi Bazin mengatakan bahwa film adalah satu-satunya media yang sangat baik untuk mengungkapkan realitas, esainya yang bertajuk The Onthology of The Photographic Image mengulas secara lebih dalam konstribusi film dalam membentuk realitas. Dimana tulisan tersebut membahas mengenai objektifitas film dalam mengungkapkan realitas. Selain itu, ontologis sinema sebagai perwujudan realitas tersajikan secara falsafi dalam esainya The Myth of Total Cinema yang seperti sudah saya tulis diatas bahwa film beroperasi pada sebuah artikulasi dalam menghadirkan realitas melalui mekanisasi sinematografis dan itulah yang disebut sebagai ontologi sinema.

Baiklah, disini saya akan membatasi tulisan ini pada sumbangan Bazin bagi atmosfir intelektual dan institusionalisasi film untuk digiring pada sebuah laboratorium keilmuan yakni masuknya film ke dalam gelanggang akademis. Alam raya akademis yang sangat kaya dan heterogen, turut menyuburkan bagi perkembangan dan internalisasi film dalam wilayah ilmiah. Penegasan film sebagai moda ilmiah tentunya sangat menarik karena sifatnya yang membentuk realitas dan ilusi, hal inilah yang mempertemukan film dengan berbagai multi disiplin keilmuan dan film telah mendapat legitimasinya dalam ranah ilmiah dengan penguatan basis infrastruktur akademis seperti hal ihwal ontologi, epistemilogi, metodologi hingga diskursus film pada perdebatan estetika, geopolitik, ekonomi politik, mazhab-mazhab dalam film, dll.


André
Bazin dilahirkan di Kota Anger, 18 April 1918. Pada usia lima tahun ia masuk Sekolah Dasar di La Rochelle, ia bercita-cita menjadi seorang pengajar. Setelah di La Rochelle Bazin melanjutkan pendidikannya di Versailles. Kemudian, pada tahun 1938, ia dikirim untuk melanjutkan pendidikan tingginya di École Normale Supérieure, St. Cloud Prancis. Disana ia belajar sastra dan ia menyelesaikan pendidikannya dengan ujian kualifikasi yang cemerlang. Bazin mulai menulis tentang film pada tahun 1943 dan turut mendirikan majalah Cahiers du cinéma pada tahun 1951, bersama Jacques Doniol-Valcroze dan Lo Duca.

Text Box: Kalau kita simak esai Bazin yang terhimpun dalam What Is Cinema? Kita seakan melihat film sangat filosofis dan merupakan kekhasan fenomen peradaban umat manusia seperti Bazin tulis sejatinya film adalah representasi realitas dimana secara ontologis Bazin memasifkan film sebagai kesahihan realitas yang secara radikal efeknya mempengaruhi gambaran visual di antara bentangan ruang dan waktu.  Ia secara intensif tertarik pada film dimulai pada tahun 1939 tatkala ia menjadi tentara sebagai wajib militer dalam Perang Dunia II. Dan di bentangan antara tahun 1944- 1953, Bazin menulis beberapa seri esainya, sebelum ia meninggal dunia di usia sekitar 40 tahun. Umumnya pada bahasa aslinya (baca: Perancis) Qu'est- ce que le cinéma? terdiri dari empat esai dan pada edisi bahasa Inggris yang diseleksi dan diterjemahkan oleh Hugh Gray menjadi dua volume What Is Cinema? . Perlu untuk diketahui bahwasanya pendekatan teori film André Bazin dimulai dengan melihat kebudayaan visual (image cultures) secara antropologis, secara khusus Bazin berhutang budi pada Andre Malraux, Roger Leenhardt, Walter Benjamin, Debray, McLuhan, Jean Paul Sartre, Gilles Deleuze, Maurice Merleau Ponty (sumbangan fenomenologi bagi pendekatan teori film) dan para pemikir lainnya.

Kalau kita simak esai Bazin yang terhimpun dalam What Is Cinema? Kita seakan melihat film sangat filosofis dan merupakan kekhasan fenomen peradaban umat manusia seperti Bazin tulis sejatinya film adalah representasi realitas dimana secara ontologis Bazin memasifkan film sebagai kesahihan realitas yang secara radikal efeknya mempengaruhi gambaran visual di antara bentangan ruang dan waktu.

Berkat tulisannya, kajian film mendapatkan tempat istimewa dalam khazanah intelektualitas, terbukti apresiasi ini bukanlah yang bersifat simbolik belaka, adalah Universitas Sorbonne yang pertama kali membuka sebuah disiplin ilmu baru dalam lingkungan akademik dengan membentuk sebuah departemen khusus, Institute de Filmologie Université de Sorbonne. Akademisasi film telah di mulai di Paris dengan dibukanya Institute de Filmologie Universitas Sorbonne di bawah asuhan seorang estetikus Etienne Souriau yang menghimpun beberapa sarjana dari berbagai disiplin ilmu, lembaga ini juga menerbitkan jurnal Reveu Internationale de Filmologie. Kemudian Jean Mitry selaku pimpinan departemen filmologi, ia menerapkan sebuah metodologi dan epistemilogi dalam kajian film yang tentu saja pengaruh André Bazin tak terlepas dari inisiasi ini. Profesor Mitry secara teoritis dengan berbagai perspektif keilmuan mensistesiskan pemikiran Bazin yang bermuara pada pembiakan literatur film khususnya mengenai arus baru teori film. Eksistensi lembaga yang dipimpin oleh Jean Metry mendapat tempat dalam masyarakat ilmiah, dalam waktu yang relatif singkat lembaga yang dipimpinnya naik pamor dan sangat diperhitungkan. Banyak para teoritisi-teoritisi yang telah dihasilkan oleh lembaga ini salah satunya ialah Christian Metz, demikian halnya dengan penemuan-penemuan teori dan metodologi dalam kajian film yang semakin mengukuhkan eksistensi bahwasanya filmologi adalah arah baru bagi perbendaharaan ilmu pengetahuan dengan berbagai macam tipologi ilmu pengetahuan dan tentunya pendekatan yang digunakan filmologi sangat beraneka ragam, lintas disiplin dan lintas sektoral, artinya pendekatan keilmuan (epistemilogi) kajian film sangat berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain seperti filsafat, teologi, kesusasteraan, psikologi, fisika, geologi, bahkan kelistrikan dll seperti yang ditulis oleh Hugh Gray dalam kata pengantarnya untuk What Is Cinema?

Tak dapat dibantah bagaimana André Bazin telah memberikan sebuah formulasi bagi perkembangan sinema khususnya yang berada pada lokus keilmuan dengan semakin intensifnya pengkajian-pengkajian film. Pengaruh Bazin begitu terasa dalam dinamika atmosfer kajian film, berkat esainya seakan dunia telah membuka matanya bagi perkembangan kajian film. Totalitas inilah yang ditunjukkan oleh Bazin seperti janjinya tatkala ia menjadi tentara dalam wajib militer pada Perang Dunia II bahwa ia akan mendarmabaktikan hidupnya untuk film. Ya, Bazin telah membuka horizon berpikir tentang sinema dan tentunya pamor film sebagai sebuah karya seni semakin terangkat derajatnya, lagi-lagi berkat Bazin film berhasil memantapkan kedudukannya sebagai sebuah entitas seni yang sama derajat seperti seni lukis yang begitu sudah sangat mapan dan Bazin tak lupa menulis dialektika yang terjadi terutama dalam esainya yang berjudul ”The Ontology of the Photographic Image”, dimana dalam esai ini Bazin mengutarakan kekagumannya pada citra optis fotografi embrio dari sinematografi sebagai the metaphysic of presencenya realitas yang objektif seperti kutipan Bazin ini :

....”Originality in photography as distinct from originality in painting lies in the essentially objective character of photography....” .

Renal Rinoza Kasturi

Antropolog Media di KOMKA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar